Ratu Boko merupakan situs arkeologi berupa keraton kerajaan mataram kuno dari abad ke 8 Masehi. Sumber Prasasti yang dikeluarkan oleh rakai panangkaran tahun 746-784M, kawasan Ratu Boko disebut Abhayagiri Wihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya, giri berarti bukit, wihara berarti asrama. Dengan demikian Abhayagiri Wihara berarti asrama para biksu yang terletak diatas bukit penuh kedamaian.
Tahun 1970 Van Boeckhotz menemukan adanya reruntuhan diatas bukit Ratu Boko. Seratus tahun kemudian FDK Bosch mengadakan penelistian yang diberi judul "Keraton Van Ratoe Boko", maka dikenal dengan nama Keraton Ratu Boko
Nama Keraton berasal dari kata Ka-Da-Tu-An yang artinya tempat istana raja, Boko berarti bangau. Pengertian itu kemudian menimbulkan pertanyaan siapa yang disebut Raja Bangau itu, apakah nama seorang penguasa atau burung yang sering hinggap dikawasaan bukit Ratu Boko
Menurut salah satu sumber yang aku baca, Nama "Ratu Baka" berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Baka (Bahasa Jawa, arti harafiah: "raja bangau") adalah ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama pada komplek Candi Prambanan. Kompleks bangunan ini dikaitkan dengan legenda rakyat setempat Loro Jonggrang.
Keistimewaan Ratu Boko
Berbeda dengan peninggalan purbakala lain dari zaman Jawa Kuno yang umumnya berbentuk bangunan keagamaan, situs Ratu Boko merupakan kompleks profan, lengkap dengan gerbang masuk, pendopo, tempat tinggal, kolam pemandian, hingga pagar pelindung.
Berbeda pula dengan keraton lain di Jawa yang umumnya didirikan di daerah yang relatif landai, situs Ratu Boko terletak di atas bukit yang lumayan tinggi. Ini membuat kompleks bangunan ini relatif lebih sulit dibangun dari sudut pengadaan tenaga kerja dan bahan bangunan. Terkecuali tentu apabila bahan bangunan utamanya, yaitu batu, diambil dari wilayah bukit ini sendiri. Ini tentunya mensyaratkan terlatihnya para pekerja di dalam mengolah bukit batu menjadi bongkahan yang bisa digunakan sebagai bahan bangunan.
Kedudukan di atas bukit ini juga mensyaratkan adanya mata air dan adanya sistem pengaturan air yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kolam pemandian merupakan peninggalan dari sistem pengaturan ini; sisanya merupakan tantangan bagi para arkeolog untuk merekonstruksinya.
Posisi di atas bukit juga memberikan udara sejuk dan pemandangan alam yang indah bagi para penghuninya, selain tentu saja membuat kompleks ini lebih sulit untuk diserang lawan.
Keistimewaan lain dari situs ini adalah adanya tempat di sebelah kiri gapura yang sekarang biasa disebut "tempat kremasi". Mengingat ukuran dan posisinya, tidak pelak lagi ini merupakan tempat untuk memperlihatkan sesuatu atau suatu kegiatan. Pemberian nama "tempat kremasi" menyiratkan harus adanya kegiatan kremasi rutin di tempat ini yang perlu diteliti lebih lanjut. Sangat boleh jadi perlu dipertimbangkan untuk menyelidiki tempat ini sebagai semacam altar atau tempat sesajen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar