Jumat, 02 Januari 2015

Resolusi, antara Khayalan, Harapan, atau Kenyataan

Tahun baru sering dipakai sebagian kalangan untuk memulai menuliskan resolusi/target yang akan dicapai pada setahun kedepan. Ada sebuah postingan di media sosial yang cukup menggelitik yang bertuliskan : " RESOLUSI 2015 ADALAH MEYELESAIKAN RESOLUSI 2014, YANG ISINYA ADALAH RENCANA TAHUN 2013, YANG MANA RENCANA TERSEBUT DIBUAT TAHUN 2012". Jika benar resolusi kalian seperti tulisan diatas ini, apakah resolusi yang kalian buat ini merupakah khayalan awal tahun? apakah harapan kalian dalam setahun mendatang? atau merupakan kenyataan yang akan kalian capai tahun ini?

Mari kita coba selidiki kenapa reolusi yang kita sering tulis tidak tercapai. Pada saat aku menonton televisi dirumah ada wartawan yang menanyakan apa resolusi yang diinginkan seseorang tokoh, jawaban tokoh tersebut "Resolusi tahun 2015 ini menjadi orang yang lebih baik lagi dibanding tahun 2014". Apakah ada yang salah dengan resolusi tersebut? Menurutku salah sih tidak, hanya kurang tepat. Kenapa? Karena "menjadi orang yang lebih baik" merupakan sesuatu yang tidak dapat diukur atas tingkat pencapaiannya, seberapa baik? apanya yang baik? kesehatan? karir? study? 

Permasalahan yang sering aku temui adalah resolusi yang kita buat seringnya "ngambang". Bagaimana agar resolusi kita lebi engga "ngambang"? Ada banyak teori yang dapat membantu, tetapi kali ini aku akan mencoba menggunakan SMART theory

SMART Theory sangat membantu agar resolusi kita tidak "ngambang". SMART itu merupakan singkatan dari Spesific-Measureable-Achievable-Relevant-Time
1. Spesific
Mempunyai resolusi haruslah Spesific (detail) sehingga kita dapat menilai tingkat kesuksesan kita. "Menjadi orang yang lebih baik lagi" itu sangat general, kita harus detailkan ketingkat yang lebih kecil lagi, jika dibidang kesehatan kita dapat menuliskan "menjadi orang yang memiliki berat badan 60 kg", "Mengurangi angka yang melebihi batas diatas rata-rata dalam hasil tes darah rutin", etc
2. Measureable
Measurable artinya dapat diukur resolusi kita. "Lebih baik" itu tidak dapat diukur, sebaiknya sebuah resolusi itu dapat diukur. Seperti contoh tadi "menjadi orang yang memiliki berat badan 60 kg", 60 kg merupakan hal yang bisa diukur, jika berat sekarang 70 kg ingin menjadi 60 kg maka dalam 1 tahun diharapkan dapat menurunkan 10 kg. 
3. Achievable
Sebuah resolusi harus dibuat untuk dapat dicapai. Dicapai ini dalam arti hal yang wajar, dan masuk akal, bukan resolusi yang asal sebut dan yang tidak mungkin dicapai
4. Relevant
Sebuah resolusi harus relevan sama kehidupan kita, jangan membuat resolusi yang relevan dengan kehidupan orang lain karena resolusi ini lebih menyangkut diri kita sendiri, bukan orang lain. 
5. Time
Resolusi haruslah memiliki tenggang waktu, tenggang waktu itu kita yang atur. Alangkah baiknya jika dalam resolusi 1 tahun itu kita dapat membaginya dalam target-target kecil jangka waktu 6 bulanan, 4 bulanan, 3 bulanan bahkan 1 bulanan. Jika seperti contoh diatas ada orang yang akan menurunkan berat badan 10 kg dalam 1 tahun, maka dalam resolusi itu dapat dibagi dalam setiap 3 bulan harus turun minimal 2,5kg. Pembatasan waktu ini membantu kita agar kita lebih terpacu untuk menyelesaikan, dan tidak menumpuk di belakang.

Semoga SMART Theory ini berhasil membantu untuk memperjelas resolusi kita yang sering "ngambang".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar